Sangihe, Lintasutara.com – Lampu sorot menyala perlahan, Tamrin dan Istrinya Kiki memulai diskusi rumahan, dialog romantis sepasang pasutri kaya raya, sebelum Tamrin berangkat kerja.
Sapri keluar, setelah ketahuan menguping pembicaraan dua tuannya dari balik tirai. Kehadiran Sapri sebagai figur lucu nan tengil menjadi pembeda pada babakan pertama.
Konflik awal pentas terjadi ketika masuk Samirah, orang ketiga dalam rumah tangga Tamrin dan Kiki, yang menurut Tamrin, semata untuk meredakan beban hidup nan rumit buat puyeng kepala. Menurutnya, poligami itu sebenarnya atas usulan Kiki juga.
Pada babak ini, Kiki bahkan meminta Sapri untuk mengundang Polisi ke rumahnya, dengan laporan dugaan penipuan yang akan Samirah lakukan, sebagaimana banyak perempuan yang datang mengaku sebagai istri Tamrin.
Dialog tegang nan sarkas, berlangsung antar kedua nyonya Tamrin. Sesekali Apeles Manatar selaku sutradara menyisipkan topik lucu-kontekstual seperti nama pun lokasi di Sangihe yang memicu gelak tawa.

Konflik berakhir dengan Tamrin yang akhirnya mengakui kesalahannya ketika tak mampu lagi menanggung kekesalan dua istri yang sudah ia kawini ini, termasuk kasus korupsinya. Tamrin bahkan meminta Polisi untuk memborgol bahkan menjebloskannya ke jeruji besi.
Namun masih ada cerita rumit bagi Kiki dan Samirah. Karna dengan jeblosnya Tamrin, masa depan keduanya bakal jadi amburadul karna aset – aset mahal yang selama ini mereka nikmati, bakal tersita. Hal yang baru mereka sadari dari pesan terakhir Tamrin, buat sesak kedua perempuan hedon pada akhir pentas.
Gambaran hedonsime berbalut kisah korupsi dan perselingkuhan memang kental dalam kisah Nyonya dan Nyonya karya Motinggo Boesje. Dan hal itu sukses dieksekusi para Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 (SMANSA) Tahuna.

Secara umum, Jonggen Lawerissa (Tamrin), Yeisha Lohonsedu (Kiki), Eightthree Pudihang (Samirah), Yeskri Markus (Sapri) dan Ryo Pakpahan (Polisi) mampu membawakan peran masing – masing dengan apik, belum lagi garapan musik dan pencahayaan nan simpel namun memadatkan setiap sendi garapan secara utuh.
Apeles Manatar, Sutradara, mengaku puas dengan apa yang sudah para aktor dan aktris pentaskan. “Ada banyak indikator, tapi yang paling penting adalah penonton yang terhibur dan paham dengan setiap alur cerita,” singkat Apeles.
Siswa SMANSA Tahuna Makin Kreatif Dengan Manajemen Pentas Mandiri
Barangkali tak berlebihan ketika judul berfokus pada SMANSA Tahuna Makin Oke, karna para civitas akademikanya yang terus berproses secara mandiri dalam merealisasikan hobby mereka.
Sekiranya kita setujui, maka orientasi pendidikan hari ini bukan hanya persoal juara dan tingginya nilai akademik, tapi juga bagaimana para siswa mampu berkreasi dalam tiap sendi kehidupan, pun mampu menghidupkan masyarakat, lebih besarnya lagi peradaban.
Hal inilah yang sekiranya menjadi gambaran SMANSA Tahuna hari ini. Dalam setahun belakangan, tak bisa dipungkiri ada banyak hajatan Siswa, yang salah satu SMA tertua di Sangihe ini gelar, diberbagai sektor baik olahraga maupun seni.

“Kegiatan – kegiatan tersebut, memang sering para Siswa lakukan secara mandiri. Biasanya Sekolah membantu sebisanya, tapi memang para Siswa lebih banyak menghasilkan kegiatan lewat upaya mandiri dan itu sangat kami support,” sebut Rivaldo Tamarariha, Guru yang juga pendamping tim Teater.
Sama juga dengan kegiatan yang berlangsung sedari Senin (28/10/2024) hingga hari ini, lanjutnya. Sekolah membantu beberapa item dan sebagian kecil kebutuhan, lantas selebihnya Siswa upayakan dengan penjualan tiket pun pencarian dana.
“Mereka sering belajar tentang manajemen kegiatan di SMANSA Tahuna, jadi ketika menghadapi event – event seperti ini, sudah jadi hal biasa, karna memang tidak masuk dalam program Sekolah. Jadi kami harus kreatif supaya hobby kami bisa terealisasi,” kunci Tamarariha.
Khusus teater, tak berlebih juga kalau Sekolah yang saat ini dipimpin Marthin Janis, M.Pd ini jadi paling depan, baik kualitas maupun kuantitas, baik juga pelakunya maupun jumlah pementasannya.

Tentu jadi catatan tersendiri bagi pegiat teater. Karna kembali lagi, Aktor dan Aktris yang baik pasti merupakan hasil proses nan panjang, sedari Sekolah.
Fajar Gultom, Presiden Sanggar Seni Seriwang Sangihe, berharap apa yang sudah anak – anak SMANSA Tahuna lakukan bisa menjadi trigger kegiatan serupa di Sangihe.
“Saya tadi terundang sebagai pimpinan Sanggar Seriwang dan ternyata penontonya tidak hanya Siswa di SMANSA Tahuna. Kami tentu berharap produksi – produksi teater di tingkat SMA bisa terus kita kembangkan, mengingat juga perteateran di Sangihe terus berkembang, pun terbukti menjadi wadah pendidikan nan baik untuk para Siswa,” pungkas Gultom.
(Gerald Kobis)
