Akhir tahun 2023, pemberitaan politik mulai menggelitik dan menarik, bahkan sampai sudut tersempit negeri ini pun pada ngulik politik. Tapi nyatanya, ada segmen sosial masyarakat yang merasa terusik dengan hadirnya politik, tepatnya di lingkungan Pondok Pesantren.
Bagaimana nggak terusik, politik itu urusannya kental dengan kekuasaan sedangkan di ajaran pesantren ada ajaran dilarang hubbul jah (cintah pangkat), maka banyak ditemui kaum pesantren yang abai, bahkan jijik dengan politik. Namun, ada satu kiai yang getol menganjurkan santrinya berpolitik. Dia adalah KH Mahrus Ali.
KH Mahrus Ali dikenal sebagai tokoh nasional yang terlahir dari lingkungan tradisional. Walaupun begitu, beliau memiliki wawasan internasional. Pengasuh Pondok Lirboyo ini adalah salah satu tokoh kiai yang tidak jijik dengan politik, bahkan beliau malah menganjurkan santri-santrinya untuk ikut berpolitik.
Seperti yang disampaikan KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) ketika mondok di Lirboyo dulu, Mbah Moen sering menyaksikan Yai Mahrus menyampaikan kepada santri-santrinya, “Man lam ya’rif bilpolitk akalahul politik” (orang yang tidak mengerti politik akan dimakan politik). Dengan arti yang sama di atas, dalam redaksi lain berbunyi, “Man lam ya’rif assiyasah akalathu assiyasah”.
Ketika saya sowan kepada Yai Chalwani, Pengasuh Ponpes Annawawi Berjan, ia bercerita bahwa Yai Mahrus itu memiliki tiga santri khusus yang digembleng untuk mengurus keorganisasian dan politik.
“Diantaranya Pak Barkah muda, Yai Mansur Adnan muda (alm) dan Pak Sunadi Ilham muda. Kalau ada urusan organisasi Yai Mahrus berembuk dengan tiga santri ini. Bagaimana-bagaimananya,” terang Yai Chalwani pada 2021 silam.
Kehadiran dan kesediaan Yai Mahrus di panggung politik ini ibarat oase di tengah padang pasir, mengingat teramat banyak kiai yang menyingkir dari arena politik. Yai Mahrus di Pondok Lirboyo memang memiliki ‘tugas’ untuk mengurus Pondok bagian luar.
Selain ngaji, kiai kelahiran Gedongan, Cirebon ini teramat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, ia bersama santri-santrinya, dibantu kolonel Mahfudz, merampas senjata di Markas Kanpetai Jepang di Jalan Brawijaya Kediri.
Pasca kemerdekaan, Yai Mahrus menjadi komandan dalam resolusi jihad saat Surabaya membara, kemudian sangat militan dalam melawan pemberontakan PKI. Era Orde Baru pun, Yai Mahrus sangat concern mengkritik keputusan-keputusan pemerintah yang sekiranya tidak memihak rakyat.
Pernah suatu ketika Pak Harto ingin mengontrol kiai-kiai, namun karena kepintaran Yai Mahrus, Kiai-kiai tadi gagal untuk di dikte Pak Harto. Sebaliknya, Yai Mahrus malah bisa “mengontrol” pemerintah dan sedikit demi sedikit bisa “mengislamisasi” birokrasi. Pejabat yang sebelumnya jarang salat jum’at dan salat lima waktunya sembunyi-sembunyi, akhirnya berkat kepiawaian Yai Mahrus, pejabat tadi menjadi lebih religius.
Melihat fakta dan kiprah Yai Mahrus di atas, sangat benar bila beliau meyuruh santrinya untuk paham politik. Karena kalau tidak berpolitik, agama, khususnya pesantren bisa diobrak-abrik oleh birokrasi pemerintahan yang merupakan buah dari politik.
Begitu pedulinya Yai Mahrus pada politik, beliau pernah berpesan kepada putranya, “Saya mewakafkan jiwa dan raga untuk agama, bangsa dan negara,” pesan Yai Mahrus kepada Gus An’im yang sekarang mejadi anggota DPR RI.
Pesan itu menjadi bukti betapa tulusnya beliau berjuang dan mengabdi kepada agama dan negeri. Mengabdi kedalam dua dimensi itu bisa terlaksana dengan baik apabila melalui jalur politik. Bahkan dengan tegas Yai Mahrus pernah dawuh, “Aku tidak rela santri-santriku jadi dukun. Aku pingin Santriku jadi pejuang,” tegas Yai Mahrus, berdasarkan kesaksian Dr. Hasanuddin, Alumni Pondok Lirboyo dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah.
Dawuh itu semakin mempertegas posisi Yai Mahrus yang tidak seperti kebanyakan Yai lain yang memperhatikan supranatural. Yai Mahrus nampak lebih memprioritaskan ibadah-ibadah sosial.
Tak ayal, santri-santri Yai Mahrus selain sudah jadi kiai yang memperjuangkan ilmu agama, banyak pula yang jadi politikus dan membela negara. Selain putranya yang sudah disebutkan di atas, berturut-turut diantaranya Alm. Mbah Moen, Yai Said Aqil Siradj, Yai Chalwani Nawawi, Yai Anwar Iskandar, dll.
Selanjutnya, melihat perjuangan militan Yai Mahrus di atas, banyak suara yang mengusulkan Kiai yang pernah ‘tenggelam’ di Sungai Bengawan Solo ini menjadi pahlawan nasional, seperti sahabat karibnya yang sudah diakui, KH As’ad Syamsul Arifin.
Begitulah secarik kisah KH Mahrus tentang berpolitik. Harapanya, bagi yang membaca ini semoga tidak pada Golput di 2024 nanti. Kiai saja berpolitik, masak kita kagak?
